“Aku sudah dimaafkan, tapi kenapa rasanya malah makin bersalah?”
Kalau kamu pernah merasa seperti itu, apalagi dalam hubungan yang penuh tarik-ulur, bisa jadi kamu sedang berhadapan dengan permintaan maaf yang manipulatif dari seseorang dengan kecenderungan narsistik. Maaf mereka terdengar baik di permukaan, tapi menyimpan jebakan yang menyakitkan secara emosional.
Apa yang Terjadi Saat Narsisis Meminta Maaf
Permintaan maaf dari seorang narsisis seringkali tidak lahir dari empati atau penyesalan yang tulus. Sebaliknya, mereka bisa menggunakan kalimat seperti:
- “Maaf ya, tapi kamu juga harusnya…”
- “Oke, aku salah, tapi kamu bikin aku seperti ini.”
- “Aku minta maaf supaya kita bisa move on.”
Kalimat-kalimat di atas bukanlah bentuk pertanggungjawaban sejati, melainkan cara untuk menyelamatkan muka atau menekan kamu agar merasa bersalah juga.
Tujuan Tersembunyi di Balik Maaf Narsisis
Permintaan maaf bisa jadi alat yang sangat efektif bagi seorang narsisis untuk mengatur ulang posisi mereka dalam hubungan. Beberapa tujuan tersembunyi di balik maaf mereka antara lain:
- Meredam konflik tanpa benar-benar berubah.
- Memulihkan citra diri agar tetap tampak baik di mata orang lain.
- Menarik kembali pasangan ke dalam siklus relasi yang toxic โ inilah yang disebut trauma bonding.
Sebuah penelitian oleh Carpenter et al. (2019) menemukan bahwa individu dengan ciri-ciri narsistik cenderung menggunakan permintaan maaf sebagai alat manipulasi sosial untuk mempertahankan kekuasaan dalam relasi interpersonal.
Kenapa Maaf Mereka Terasa Kosong dan Menyakitkan
Meski terdengar seperti ingin berdamai, permintaan maaf dari narsisis seringkali meninggalkan luka baru. Mengapa?
- Tidak disertai empati: mereka tidak benar-benar merasakan dampak dari perbuatannya terhadap kamu.
- Tanpa perubahan nyata: perilaku menyakitkan akan berulang lagi dan lagi.
- Memutarbalikkan realita: kamu yang awalnya korban, bisa malah merasa bersalah.
Hal ini dapat menyebabkan efek psikologis seperti gaslighting, kebingungan, dan kehilangan kepercayaan terhadap intuisi sendiri.
Ciri Permintaan Maaf yang Sehat vs Manipulatif
Agar kamu bisa mengenali jebakan ini lebih cepat, berikut perbandingannya:
| Maaf yang Sehat | Maaf Manipulatif |
|---|---|
| Mengakui kesalahan tanpa syarat | Ada “tapi”-nya di belakang |
| Empati terhadap perasaanmu | Fokus pada bagaimana mereka merasa disudutkan |
| Disertai perubahan sikap | Perilaku menyakitkan terus berulang |
Apa yang Bisa Kamu Lakukan Jika Mengalami Ini
- Validasi perasaanmu sendiri โ kamu tidak berlebihan jika merasa maaf itu kosong.
- Jangan buru-buru luluh โ observasi apakah ada perubahan nyata setelahnya.
- Cari dukungan โ entah dari psikolog, komunitas healing, atau teman terpercaya yang memahami dinamika relasi narsistik.
Penutup: Maaf Sejati Tak Akan Membuatmu Bingung
Kamu layak mendapatkan permintaan maaf yang membawa kelegaan, bukan luka baru. Jika kamu terus merasa terjebak dalam siklus rasa bersalah dan luka batin, percayalah โ itu bukan salahmu. Dan kamu tidak harus menghadapi ini sendirian.
Ingin belajar lebih dalam soal dinamika relasi narsistik? Temukan artikel lainnya di EdukasiNPD.com.
Sumber:
- Carpenter, T. P., Carlisle, R. D., & Wood, D. (2019). “How Do Narcissists Apologize?” Journal of Personality and Social Psychology. https://doi.org/10.1037/pspp0000186
- Psychology Today. โNarcissists and Fake Apologies.โ Accessed 2025.











