“Dia memang kasar dan suka menyalahkan, tapi katanya masa kecilnya berat…”
Kalimat seperti ini sering kita dengar saat seseorang mencoba memahami perilaku manipulatif seorang narsisis. Kita diajarkan untuk berempati, dan itu hal baik. Tapi, bagaimana jika empati kita justru membuat kita buta akan kenyataan?
Selama ini, banyak orang percaya bahwa narcissistic personality disorder (NPD) selalu terbentuk karena trauma masa kecil. Namun, kenyataannya lebih kompleks dari itu.
Trauma Bukan Satu-Satunya Akar Narsisisme
Dalam dunia psikologi, memang benar bahwa pengalaman masa kecil bisa menjadi faktor dalam perkembangan NPD. Misalnya, pengabaian emosional, kekerasan, atau pola asuh yang tidak konsisten bisa menjadi pemicu. Tapi itu bukan satu-satunya jalur menuju narsisisme.
Menurut studi dari Brummelman et al. (2015), justru pola asuh yang terlalu memuja anak secara berlebihan (*parental overvaluation*) bisa berkontribusi besar dalam membentuk kepribadian narsistik. Anak-anak yang sejak kecil dianggap “lebih istimewa dari yang lain” tanpa dasar yang realistis bisa tumbuh dengan perasaan superior dan kebutuhan validasi yang tinggi.
Narsisis dari Keluarga yang “Baik-Baik Saja”
Beberapa narsisis justru tumbuh di lingkungan keluarga yang terlihat sehat. Mereka tidak mengalami kekerasan fisik atau verbal, tidak kekurangan kasih sayang secara eksplisit. Tapi mereka tumbuh dengan pesan yang salah—bahwa mereka istimewa di atas orang lain, bahwa mereka tidak boleh dikritik, dan bahwa dunia seharusnya menyesuaikan dengan mereka.
Ini menjelaskan mengapa sebagian narsisis tampak begitu percaya diri dan karismatik di luar, tapi rapuh secara emosional ketika dihadapkan pada kritik atau kegagalan. Mereka tidak tahu cara mengelola kekecewaan, karena mereka tak pernah dilatih menghadapi realitas yang tidak selalu memuja mereka.
Jenis-Jenis Narsisis: Tidak Semua karena Luka
Psikologi modern mengklasifikasikan narsisis menjadi beberapa tipe, dua di antaranya adalah:
- Narsisis overt: tampil percaya diri, suka jadi pusat perhatian, dan penuh tuntutan. Sering kali terbentuk dari pujian berlebihan saat kecil.
- Narsisis covert: lebih tertutup, namun sangat sensitif terhadap kritik dan cenderung menyalahkan orang lain. Biasanya terbentuk dari luka dan penolakan masa kecil.
Artinya, tidak semua narsisis berasal dari masa kecil yang “terluka” secara klasik. Sebagian justru adalah hasil dari sistem keluarga yang tidak membatasi ego anak secara sehat.
Bahaya Jika Kita Terlalu Cepat Memaafkan
Ketika kita mengasumsikan bahwa semua narsisis adalah korban, kita rentan mengabaikan kerusakan yang mereka timbulkan pada orang lain. Kita bisa menjadi terlalu toleran terhadap perilaku manipulatif, pelecehan emosional, dan bentuk kekerasan psikologis lainnya.
Memahami asal usul perilaku narsistik bukan berarti membenarkannya. Bahkan empati harus dibarengi dengan batas yang jelas, terutama jika kita berada dalam relasi dekat dengan seorang narsisis—baik sebagai pasangan, anak, teman, atau rekan kerja.
Penutup: Empati Sehat, Bukan Membiarkan Diri Terluka
Dalam relasi yang sehat, kita bisa memahami tanpa harus menyelamatkan. Kita bisa peduli tanpa harus terjebak. Dan yang paling penting, kita bisa menolak dikendalikan, meskipun tahu orang itu punya luka yang belum selesai.
“Understanding someone’s past doesn’t mean you have to tolerate their present behavior.” – Anonim
Jadi, sebelum kamu merasa bersalah karena menetapkan batasan dengan seorang narsisis, ingat: tidak semua mereka berasal dari luka. Tapi semua bisa melukai.
Referensi:
- Brummelman, E., Thomaes, S., Nelemans, S. A., Orobio de Castro, B., Overbeek, G., & Bushman, B. J. (2015). Origins of narcissism in children. PNAS. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4385439/
- American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.)










