Kenapa Korban Narsisis Sulit Move On Meski Sudah Lama Putus

Npd featured image 7 optimized

“Sudah lama putus, tapi kenapa hatiku masih terasa terikat?”

Banyak orang yang pernah menjalin hubungan dengan seorang narsisis mengalami hal serupa. Hubungan itu mungkin sudah berakhir secara fisik, tapi luka batin yang ditinggalkan bisa tinggal jauh lebih lama. Kamu tidak sendiri. Dan kamu tidak lemah. Justru kamu sedang melalui sesuatu yang kompleks secara emosional.

Cinta dalam Hubungan Narsistik Bukan Sekadar Cinta

Hubungan dengan narsisis biasanya dimulai dengan fase idealisasi โ€” di mana kamu dipuji, dikagumi, dan dibuat merasa seperti orang paling spesial di dunia.

Lalu perlahan, semuanya berubah menjadi fase devaluasi dan discard. Mereka mulai mengkritikmu, menjauh, bahkan menghilang begitu saja.

Pola ini menciptakan efek psikologis seperti naik-turun rollercoaster. Kamu terbiasa pada intensitas hubungan โ€” bukan kestabilannya. Ini membuat otakmu mengalami reaksi kimia serupa dengan kecanduan.

Mengapa Sulit Move On dari Narsisis

  • Trauma bonding: kamu terikat secara emosional dengan orang yang menyakitimu karena ada momen-momen โ€œbaikโ€ di antaranya.
  • Gaslighting: kamu diragukan, disalahkan, sampai kamu mulai meragukan dirimu sendiri.
  • Emotional withdrawal: meski menyakitkan, kamu pernah merasa dicintai. Dan sekarang kamu kehilangan itu sekaligus identitas diri.

Menurut Shahida Arabi (2018), hubungan dengan narsisis bisa mengaktifkan sistem penghargaan otak seperti adiksi. Putus darinya menciptakan gejala mirip withdrawal.

Gejala Umum yang Dialami Setelah Putus

  • Merasa rindu sekaligus takut jika berinteraksi lagi.
  • Sering menyalahkan diri sendiri atas kegagalan hubungan.
  • Terjebak dalam pikiran โ€œseandainya aku lebih sabar atau lebih baik.โ€
  • Merasa kosong, seolah tidak tahu siapa dirimu tanpa dia.

Bukan Karena Lemah, Tapi Karena Lukanya Nyata

Kalau kamu masih belum bisa benar-benar move on, itu bukan karena kamu lemah. Relasi narsistik meninggalkan luka psikologis mendalam โ€” luka yang tak tampak secara fisik, tapi sangat memengaruhi cara kamu memandang diri sendiri dan dunia.

Baca Juga:  Berhenti Menghukum Diri Sendiri Karena Masa Lalu

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Memulai Pemulihan?

  • Lakukan no contact. Hentikan semua komunikasi jika memungkinkan, termasuk stalking media sosialnya.
  • Tulis jurnal atau ekspresikan emosi. Jangan simpan semuanya di kepala.
  • Cari bantuan profesional. Terapi dapat membantu mengurai luka yang membingungkan.
  • Bangun kembali self-worth. Mulailah dari hal kecil: rutinitas sehat, komunitas positif, belajar hal baru.

Penutup: Move On Bukan Soal Waktu Tapi Soal Pemulihan

Move on bukan tentang โ€œmelupakan diaโ€ secepat mungkin. Tapi tentang menyembuhkan bagian dalam dirimu yang terluka โ€” dengan penuh kesabaran dan kasih sayang pada diri sendiri.

Jangan bandingkan prosesmu dengan orang lain. Kamu tidak terlambat. Kamu sedang belajar mencintai dirimu kembali โ€” dan itu adalah hal paling penting.


Sumber:

  • Shahida Arabi. (2018). Power: Surviving and Thriving After Narcissistic Abuse.
  • Psychology Today. โ€œWhy Narcissistic Abuse Feels Like an Addiction.โ€ Accessed 2025.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *