“Dulu anakku begitu dekat denganku, tapi sejak pisah dia berubah. Sekarang dia seolah tak percaya lagi padaku.”
Banyak orang tua yang pernah menjalin hubungan dengan pasangan narsistik mengalami kejutan emosional setelah berpisah. Bukan hanya karena proses perceraian yang melelahkan, tapi juga karena anak mereka tiba-tiba menjauh. Jika ini terjadi padamu, ada kemungkinan kamu sedang menghadapi taktik manipulatif yang lebih halus namun sangat merusak: anak dijadikan alat untuk menang dalam hak asuh.
Mengapa Narsisis Menjadikan Anak Sebagai Alat dalam Hak Asuh
Seseorang dengan kecenderungan narsistik tidak melihat anak sebagai individu yang harus dilindungi. Sebaliknya, anak diperlakukan sebagai “aset” yang bisa dimanfaatkan untuk mempertahankan kendali, membangun citra, atau sekadar melukai mantan pasangannya.
Bagi narsisis, hak asuh bukan tentang apa yang terbaik bagi anak — tapi tentang siapa yang “menang”. Maka tak heran jika mereka menghalalkan berbagai cara untuk merebut simpati pengadilan dan menjatuhkan lawan.
Taktik Umum yang Digunakan Narsisis dalam Sengketa Hak Asuh
- Parent Alienation: Narsisis sengaja merusak citramu di mata anak dengan berkata, “Mama/Papa itu egois, makanya kita harus pisah.”
- Memainkan peran korban: Mereka bisa tampil sangat meyakinkan di depan orang lain — penuh air mata, kata-kata lembut, padahal manipulatif.
- Gaslighting secara hukum: Mereka bisa memutar balik fakta, menyatakan kamu tidak stabil, tidak layak menjadi orang tua, meski kenyataannya tidak demikian.
Dr. Amy J. L. Baker dalam studinya tahun 2010 tentang parental alienation menyebut bahwa anak bisa secara psikologis “dipersenjatai” oleh satu pihak untuk melawan pihak lainnya — dan efeknya bisa jangka panjang.
Dampak Psikologis pada Anak dan Orang Tua
Anak yang terjebak dalam konflik narsistik akan:
- Merasa bingung dan takut mengambil posisi.
- Mengalami loyalitas terbelah dan perasaan bersalah.
- Tumbuh dengan pemahaman emosional yang terdistorsi.
Sementara orang tua yang menjadi korban bisa merasa:
- Tak berdaya secara hukum maupun emosional.
- Frustasi karena tidak bisa “menjelaskan kebenaran” pada anak.
- Terisolasi dari dukungan sosial karena narasi telah dimanipulasi.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan?
- Dokumentasikan semua bukti komunikasi. Ini penting jika kamu harus membela diri secara hukum.
- Jangan menyerang balik secara emosional. Anak tetap butuh figur yang tenang dan stabil.
- Libatkan pihak profesional, seperti psikolog anak atau mediator bersertifikasi.
- Fokus membangun relasi dengan anak secara perlahan dan konsisten, meski sulit di awal.
Penutup: Kamu Boleh Lelah Tapi Jangan Diam
Berhadapan dengan narsisis dalam perkara hak asuh adalah ujian mental yang berat. Tapi kamu tidak harus menghadapinya sendirian. Teruslah berjuang, dengan tenang dan penuh kasih. Karena pada akhirnya, anak akan tumbuh dan merasakan sendiri siapa yang hadir dengan cinta yang tulus.
Butuh perspektif profesional? Temukan artikel dan panduan lainnya di edukasinpd.com.
Sumber:
- Baker, A. J. L. (2010). Adult Children of Parental Alienation Syndrome. Norton Professional Book Series.
- Psychology Today. “How Narcissists Use Children During Divorce.” Accessed 2025.











