“Cuma blokir media sosial, kenapa deg-degan banget ya? Tapi setelah kulakukan, rasanya seperti bisa bernapas lagi.”
Bagi banyak orang, fitur “blokir” di media sosial atau aplikasi pesan terasa sepele. Tapi bagi kamu yang sedang memulihkan diri dari hubungan dengan narsisis, tindakan ini bisa jadi titik balik besar dalam proses kesembuhan emosionalmu.
Kamu tidak berlebihan. Kamu tidak kekanak-kanakan. Kamu tidak jahat.
Memutus akses dengan seseorang yang pernah memanipulasi, merendahkan, atau mengontrolmu bukan bentuk balas dendam, melainkan bentuk perlindungan.
Kenapa Blokir Bisa Jadi Langkah Besar?
1. Kamu Menghentikan Akses Manipulasi
Narsisis sangat mahir memanfaatkan akses sekecil apa pun untuk mengganggu kembali hidupmu: dari sekadar menonton story, mengirim emoji pasif-agresif, sampai hoovering dengan dalih nostalgia.
Dengan memblokir, kamu menghentikan jalan masuk yang biasa mereka pakai.
2. Kamu Melatih Diri Menentukan Batasan
Setiap kali kamu mengambil langkah untuk melindungi dirimu, kamu sedang melatih otot batin bernama boundaries. Dan itu penting—karena batasan yang sehat adalah fondasi pemulihan dari relasi toksik.
3. Kamu Mengirim Pesan ke Diri Sendiri: Aku Layak Merasa Aman
Kadang kita takut memblokir karena khawatir dianggap kejam. Tapi pada akhirnya, yang paling penting bukan bagaimana mereka menilai kamu, tapi bagaimana kamu memperlakukan dirimu sendiri.
Dengan memblokir, kamu berkata pada dirimu: “Aku cukup penting untuk dilindungi.”
Tapi… Kenapa Rasanya Berat Banget?
“Padahal tinggal klik. Tapi tangan ini gemetar. Kenapa?”
Karena kamu tidak hanya memblokir akun. Kamu sedang memblokir ilusi harapan.
Sebagian dari dirimu mungkin masih berharap mereka berubah, sadar, atau setidaknya minta maaf. Tapi hubungan dengan narsisis sering tidak memberi penutupan sehat. Mereka datang dan pergi sesuka hati, meninggalkan luka yang terbuka.
Memblokir berarti mengakui kenyataan: mereka tidak akan pernah jadi seperti yang kamu harapkan.
Dan itu menyakitkan. Tapi juga membebaskan.
Hal-Hal yang Mungkin Terjadi Setelah Kamu Blokir
- Kamu merasa lega tapi sekaligus sedih (itu normal).
- Mereka mencari cara lain menghubungi (lewat teman, email, bahkan akun palsu).
- Kamu mempertanyakan keputusanmu dan tergoda membuka blokir.
- Kamu merasa bersalah padahal tidak melakukan kesalahan.
Ingat: emosi pasca-blokir tidak berarti keputusanmu salah. Itu hanya bagian dari proses healing.
Tips agar Keputusanmu Lebih Kuat
- ✅ Tulis alasan kenapa kamu blokir. Simpan dan baca ulang saat mulai ragu.
- ✅ Matikan notifikasi untuk sementara agar kamu bisa tenang.
- ✅ Cari dukungan—teman yang validasi keputusanmu atau komunitas sesama penyintas.
- ✅ Blokir bukan cuma soal akun, tapi juga membatasi obrolan tentang mereka.
- ✅ Fokus pada hidupmu, bukan pada reaksi mereka setelah diblokir.
Blokir Adalah Hak, Bukan Drama
Banyak orang yang belum pernah mengalami hubungan dengan narsisis akan bilang:
“Ngapain sih lebay, blokir-blokiran?”
“Kan bisa diomongin baik-baik.”
Sayangnya, tidak semua orang bisa memahami relasi yang dipenuhi gaslighting, love bombing, dan manipulasi. Dan kamu tidak berkewajiban menjelaskan batasanmu ke siapa pun.
Blokir bukan bentuk kebencian. Itu bentuk self-care.
Saat Kamu Siap Melangkah, Ingat Ini:
Tindakan kecil hari ini bisa jadi pondasi besar untuk masa depanmu.
Tidak ada langkah terlalu sepele kalau itu membawa kamu lebih dekat pada kedamaian.
Kalau memblokir adalah langkah pertamamu menuju kebebasan—maka itu langkah yang luar biasa berani.
Temukan artikel pemulihan lain dan panduan sehat menghadapi NPD di











