Apakah kamu selalu dipuji sebagai anak yang paling membanggakan dalam keluarga, tapi di dalam hati merasa ada yang tidak beres? Bisa jadi kamu adalah seorang golden child dari orang tua yang memiliki sifat narsistik.
Kedengarannya seperti keberuntungan, bukan? Tapi kenyataannya, menjadi “anak emas” dalam keluarga narsistik justru bisa menyimpan luka batin yang dalam—dan sering kali tak disadari oleh sang anak sendiri. Yuk, kita bongkar bersama apa yang sebenarnya terjadi di balik label “anak kebanggaan keluarga” ini.
Apa Itu Golden Child dan Mengapa Mereka Dipilih?
Dalam keluarga dengan orang tua yang narsisis, biasanya ada pola pembagian peran tidak sehat: satu anak dijadikan scapegoat (kambing hitam), satu lagi dijadikan golden child. Golden child adalah anak yang “dipilih” untuk menjadi perpanjangan ego orang tua.
Psikolog keluarga Dr. Karyl McBride, penulis buku Will I Ever Be Good Enough?, menjelaskan bahwa orang tua narsisis sering menggunakan anak untuk mencerminkan citra mereka. Anak yang memenuhi harapan, patuh, dan tampil “sempurna” akan mendapatkan perlakuan istimewa—bukan karena cinta sejati, tapi karena mereka membantu menjaga ilusi ideal sang orang tua.
Anak emas ini sering dibanjiri pujian, dipamerkan ke orang lain, bahkan diprioritaskan atas saudara-saudaranya. Tapi di balik itu semua, ada tekanan besar yang nyaris tak terlihat.
Dampak Psikologis yang Sering Tak Disadari
Meski tampak diistimewakan, golden child sebenarnya berada dalam jebakan ekspektasi yang tidak realistis. Mereka didorong untuk selalu terlihat sempurna, menekan perasaan sendiri, dan hidup demi validasi orang tua. Inilah yang menyebabkan luka batin tersembunyi.
- Takut gagal: Setiap kesalahan kecil terasa seperti kehancuran besar karena takut mengecewakan orang tua.
- Kehilangan jati diri: Karena selalu menjalani “peran”, mereka lupa siapa sebenarnya diri mereka di luar peran itu.
- Emosi ditekan: Mereka belajar bahwa menunjukkan kesedihan, marah, atau kecewa dianggap lemah atau tidak patut.
- Merasa bersalah: Banyak golden child merasa tidak enak karena mendapat perlakuan istimewa, apalagi jika saudaranya menjadi scapegoat.
Dalam jurnal Journal of Child and Family Studies (2015), disebutkan bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua narsistik berisiko tinggi mengalami kecemasan, perfectionism, dan krisis identitas saat dewasa.
Bagaimana Golden Child Bisa Pulih?
Kabar baiknya, luka batin bisa disembuhkan—tapi langkah pertama adalah menyadari pola ini. Jika kamu mulai merasa bahwa cinta yang kamu terima selama ini bersyarat atau berbasis performa, mungkin sudah saatnya untuk refleksi lebih dalam.
Berikut beberapa langkah yang bisa membantu:
- Kenali polanya: Sadari bahwa kamu tidak bertanggung jawab memenuhi ekspektasi orang tua seumur hidup.
- Bangun identitas sendiri: Temukan apa yang kamu suka, apa yang kamu yakini—bukan apa yang diharapkan.
- Belajar menetapkan batasan: Orang tua tetap bisa kita hormati tanpa harus menyerahkan hidup kita sepenuhnya.
- Dapatkan bantuan profesional: Terapi bisa jadi ruang aman untuk memproses luka yang tidak pernah diungkapkan.
Penutup
Tidak semua luka terlihat. Kadang, justru di balik pujian dan pengakuan, tersembunyi tekanan dan perasaan hampa yang tak terungkap. Golden child mungkin tampak seperti anak yang “beruntung”, tapi banyak dari mereka tumbuh tanpa pernah benar-benar tahu siapa diri mereka yang sebenarnya.
Jika kamu merasa pernah berada dalam posisi ini, jangan menyalahkan dirimu. Kamu tidak sendiri, dan kamu berhak untuk sembuh serta menjadi dirimu sendiri—bukan versi yang dibentuk untuk menyenangkan orang lain.
Karena menjadi anak yang “sempurna” tak seharusnya berarti kehilangan kebebasan untuk menjadi diri sendiri.











