Disclaimer
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan diagnosis, terapi, atau pendampingan profesional. Jika kamu merasa dalam kondisi krisis, mengalami kekerasan, atau muncul dorongan melukai diri, segera cari bantuan profesional atau layanan darurat di wilayahmu.
Keypoints
- Sulit percaya orang setelah relasi dengan narsisis adalah respons umum akibat trauma relasional.
- Betrayal trauma dapat membuat sistem deteksi ancaman menjadi lebih sensitif.
- Gaslighting sering mengikis kepercayaan pada diri sendiri, yang kemudian memengaruhi kemampuan percaya pada orang lain.
- Relasi yang tidak konsisten dapat mengguncang sistem attachment dan memicu pola cemas atau menghindar.
- Trust bisa dibangun lagi secara bertahap lewat konsistensi, batasan yang jelas, dan dukungan yang tepat.
Daftar Isi
- Pembuka
- Apa yang Terjadi dalam Relasi dengan Narsisis?
- Mengapa Setelah Itu Kamu Sulit Percaya Orang?
- Tanda-Tanda Kamu Sedang Mengalami Trust Issues
- Apakah Ini Berarti Kamu Akan Selamanya Sulit Percaya?
- Bagaimana Cara Perlahan Membangun Kembali Kepercayaan?
- Memahami Tanpa Menjadi Sinis
- Penutup
- Sumber Riset
edukasinpd.id – Pernahkah kamu merasa sulit mempercayai orang lagi setelah keluar dari hubungan dengan seseorang yang memiliki kecenderungan Narcissistic Personality Disorder (NPD)? Kamu mungkin berkata pada diri sendiri, “Aku nggak mau kejadian itu terulang lagi.” Atau, “Aku nggak yakin bisa percaya siapa pun sekarang.”
Jika itu yang kamu rasakan, kamu tidak sendirian. Banyak orang yang pernah terlibat dalam relasi dengan individu narsistik—baik sebagai pasangan, teman, atasan, bahkan anggota keluarga—mengalami perubahan besar dalam cara mereka memandang orang lain. Rasa curiga meningkat. Hati terasa lebih tertutup. Dan setiap kedekatan baru terasa seperti ancaman potensial.
Artikel ini akan membahas mengapa hal itu terjadi dari sudut pandang psikologi, bagaimana pengalaman dengan narsisis memengaruhi sistem kepercayaan (trust system) dalam diri kamu, serta bagaimana pelan-pelan membangun kembali rasa aman dalam relasi sosial.
Apa yang Terjadi dalam Relasi dengan Narsisis?
Relasi dengan individu yang memiliki NPD sering kali tidak terasa “buruk” sejak awal. Bahkan, banyak korban menggambarkan fase awal hubungan sebagai sesuatu yang sangat intens dan menyenangkan. Ini sering disebut sebagai love bombing—fase di mana kamu merasa sangat diperhatikan, dipuji, dan dianggap istimewa.
Namun seiring waktu, pola bisa berubah menjadi:
- Gaslighting (membuatmu meragukan persepsimu sendiri)
- Silent treatment
- Kritik yang merendahkan
- Manipulasi emosional
- Siklus idealisasi dan devaluasi
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) dari American Psychiatric Association (2013), NPD ditandai oleh grandiositas, kebutuhan akan kekaguman, dan kurangnya empati. Kurangnya empati inilah yang sering membuat relasi terasa tidak seimbang dan menyakitkan.
Ketika kamu terus-menerus mengalami dinamika yang tidak stabil ini, sistem emosionalmu belajar satu hal: kedekatan itu berbahaya.
Mengapa Setelah Itu Kamu Sulit Percaya Orang?
Ada beberapa penjelasan psikologis yang cukup kuat mengenai hal ini.
1. Sistem Kepercayaanmu Mengalami “Cedera”
Dalam psikologi trauma relasional, ada istilah betrayal trauma (Freyd, 1996). Trauma jenis ini terjadi ketika seseorang yang kita percayai—yang seharusnya menjadi sumber keamanan—justru menjadi sumber luka.
Saat kepercayaan dikhianati berulang kali, otak tidak hanya menyimpan memori emosional, tetapi juga mengubah cara kerja sistem deteksi ancaman.
Bagian otak seperti amygdala menjadi lebih sensitif terhadap tanda-tanda bahaya. Hal-hal kecil—seperti perubahan nada suara, pesan yang terlambat dibalas, atau ekspresi wajah tertentu—bisa memicu kecemasan.
Akibatnya, kamu menjadi lebih waspada. Secara biologis, ini adalah mekanisme perlindungan.
Masalahnya, mekanisme ini sering terlalu aktif.
2. Gaslighting Mengikis Kepercayaan pada Diri Sendiri
Salah satu dampak paling merusak dari relasi narsistik adalah gaslighting. Sweet (2019) dalam American Sociological Review menjelaskan bagaimana gaslighting secara sistematis membuat korban meragukan realitasnya sendiri.
Ketika kamu berkali-kali diberi pesan seperti:
- “Kamu terlalu sensitif.”
- “Itu cuma perasaanmu saja.”
- “Kamu salah ingat.”
Lama-lama kamu tidak hanya sulit percaya orang lain, tetapi juga sulit percaya pada dirimu sendiri.
Dan ketika kepercayaan pada diri sendiri terganggu, kepercayaan pada orang lain ikut runtuh.
Karena trust pada orang lain dimulai dari trust pada intuisi sendiri.
3. Sistem Kelekatan (Attachment) Terguncang
Teori attachment dari John Bowlby dan Mary Ainsworth menjelaskan bahwa rasa aman dalam relasi terbentuk dari pengalaman kedekatan yang konsisten dan responsif.
Relasi dengan narsisis sering kali menciptakan pola insecure attachment:
- Kamu merasa dicintai hari ini, diabaikan besok.
- Kamu dipuji saat kamu “menyenangkan”, dihukum saat kamu berbeda pendapat.
Ketidakpastian ini menciptakan kecemasan kronis dalam hubungan.
Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman relasional yang tidak konsisten dapat memperkuat pola attachment cemas atau menghindar (Mikulincer & Shaver, 2007).
Akibatnya, setelah hubungan berakhir, kamu mungkin:
- Menjadi sangat cemas dalam hubungan baru.
- Atau justru menghindari kedekatan sama sekali.
Keduanya adalah cara sistem saraf melindungi diri.
4. Otak Belajar dari Pengalaman Buruk
Otak kita dirancang untuk belajar dari pengalaman yang menyakitkan. Ini disebut sebagai negativity bias.
Jika satu orang yang sangat dekat denganmu ternyata manipulatif, otakmu bisa membuat generalisasi:
“Kalau dia bisa seperti itu, siapa lagi yang bisa aku percaya?”
Ini bukan berarti kamu lemah. Ini adalah sistem perlindungan evolusioner.
Namun tanpa disadari, generalisasi ini bisa membuat dunia terasa jauh lebih berbahaya daripada kenyataannya.
Tanda-Tanda Kamu Sedang Mengalami Trust Issues Pasca Relasi Narsistik
Beberapa tanda yang umum muncul:
- Kamu selalu mencari “red flag” bahkan pada orang yang tidak menunjukkan tanda manipulasi.
- Kamu merasa tidak nyaman saat seseorang terlalu baik padamu.
- Kamu sulit membuka cerita pribadi.
- Kamu menguji orang lain secara tidak sadar.
- Kamu merasa lebih aman sendirian daripada dekat dengan siapa pun.
Trust issues bukan berarti kamu tidak ingin dekat. Justru sering kali sebaliknya—kamu ingin, tapi takut.
Apakah Ini Berarti Kamu Akan Selamanya Sulit Percaya?
Tidak.
Namun penting untuk memahami bahwa membangun kembali trust bukan proses instan.
Penelitian tentang trauma menunjukkan bahwa pemulihan terjadi ketika seseorang mendapatkan pengalaman relasional baru yang konsisten dan aman (Herman, 1992).
Artinya, kamu tidak menyembuhkan luka relasional sendirian. Kamu menyembuhkannya lewat relasi yang lebih sehat.
Bagaimana Cara Perlahan Membangun Kembali Kepercayaan?
Berikut beberapa langkah yang bisa kamu pertimbangkan:
1. Validasi Pengalamanmu
Sebelum percaya orang lain, kamu perlu percaya bahwa pengalamanmu nyata.
Kamu tidak “terlalu sensitif”.
Kamu tidak “mengada-ada”.
Apa yang kamu alami memang menyakitkan.
Validasi ini penting untuk memulihkan kepercayaan pada diri sendiri.
2. Bedakan Waspada dan Paranoid
Waspada itu sehat.
Paranoid adalah ketika semua orang dianggap ancaman.
Coba tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah orang ini menunjukkan pola manipulasi yang konsisten, atau ini hanya ketakutanku yang berbicara?”
Latihan ini membantu otak membedakan masa lalu dan masa kini.
3. Bangun Trust Secara Bertahap
Kepercayaan tidak harus langsung 100%.
Kamu boleh:
- Membuka diri sedikit demi sedikit.
- Mengamati konsistensi perilaku orang.
- Memberi kesempatan, tanpa menyerahkan semua kendali.
Trust yang sehat dibangun melalui pola, bukan janji.
4. Perhatikan Konsistensi, Bukan Intensitas
Love bombing mengajarkan kita bahwa intensitas bukan tanda keamanan.
Yang lebih penting adalah:
- Apakah orang ini konsisten?
- Apakah ia menghormati batasan?
- Apakah ia bertanggung jawab ketika salah?
Relasi sehat terasa stabil, bukan dramatis.
5. Pertimbangkan Bantuan Profesional
Terapi dapat membantu memproses trauma relasional, terutama jika kamu merasa sangat sulit percaya siapa pun.
Pendekatan seperti trauma-informed therapy atau EMDR sering digunakan untuk membantu memproses pengalaman emosional yang mengganggu.
Memahami Tanpa Menjadi Sinis
Salah satu risiko setelah disakiti narsisis adalah menjadi sinis terhadap semua orang.
Namun penting diingat: tidak semua orang memiliki pola NPD.
Jika kamu menganggap semua orang manipulatif, kamu mungkin tanpa sadar membangun tembok yang juga menghalangi koneksi yang sehat.
Tujuan pemulihan bukan menjadi naif.
Tujuan pemulihan adalah menjadi bijak.
Bijak artinya:
- Bisa mengenali red flag.
- Bisa mempercayai intuisi.
- Tapi tetap memberi ruang bagi kemungkinan bahwa ada orang yang tulus.
Penutup: Sulit Percaya Bukan Tanda Kamu Lemah
Kalau hari ini kamu masih sulit percaya orang, itu bukan berarti kamu rusak.
Itu berarti sistem perlindunganmu bekerja keras.
Kamu pernah belajar bahwa kedekatan bisa menyakitkan. Dan sekarang kamu sedang belajar ulang bahwa tidak semua kedekatan berakhir sama.
Proses ini butuh waktu.
Namun dengan kesadaran, pengalaman relasi yang lebih sehat, dan mungkin dukungan profesional, kepercayaan bisa dibangun kembali—bukan dalam bentuk naif, tetapi dalam bentuk yang lebih matang dan sadar.
Dan mungkin suatu hari nanti, kamu akan menyadari: kamu tidak lagi hidup dalam mode bertahan. Kamu kembali hidup dalam mode terhubung.
Sumber Riset
- American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).
- Freyd, J. J. (1996). Betrayal Trauma: The Logic of Forgetting Childhood Abuse.
- Sweet, P. L. (2019). The Sociology of Gaslighting. American Sociological Review.
- Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2007). Attachment in Adulthood: Structure, Dynamics, and Change.
- Herman, J. L. (1992). Trauma and Recovery.











