Artikel ini bertujuan untuk edukasi dan bukan pengganti diagnosis, asesmen, atau terapi psikologis profesional. Jika kamu merasa terdampak secara emosional, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari psikolog atau tenaga kesehatan mental yang kompeten.
- Rasa tertarik pada narsisis setelah hubungan berakhir bisa muncul karena ikatan emosional, pola reward yang tidak konsisten, dan trauma bonding.
- Yang sering dirindukan bukan sosok yang utuh, melainkan versi ideal di awal hubungan dan harapan bahwa pasangan akan berubah.
- Pemulihan perlu melibatkan pemahaman pola relasi, pemisahan fakta dari harapan, serta pembangunan kembali self-worth yang sehat.
- Setelah Lepas, Mengapa Kamu Masih Merasa Tertarik pada Narsisis?
- Ketertarikan Itu Nyata, dan Itu Bukan Kebetulan
- Love Bombing: Awal yang Membuatmu “Terikat”
- Trauma Bonding: Ikatan yang Terbentuk dari Rasa Sakit
- Dopamin dan “Kecanduan Emosional”
- Idealization vs Reality: Kamu Merindukan Versi yang Tidak Konsisten
- Self-Worth yang Terkait dengan Validasi
- Familiarity Bias: Luka Lama yang Terasa “Nyaman”
- Cognitive Dissonance: Sulit Menerima Realita
- Empati yang Disalahgunakan
- Kenapa Rasa Itu Tidak Langsung Hilang?
- Apa yang Bisa Kamu Lakukan?
- Penutup: Kamu Tidak “Gagal Move On”
- Sumber Riset
edukasinpd.id – Kamu sudah keluar dari hubungan itu. Secara logika, kamu tahu hubungan tersebut tidak sehat. Bahkan mungkin menyakitkan. Tapi entah kenapa… ada bagian dalam dirimu yang masih merasa tertarik. Masih ingin kembali. Masih rindu.
Kalau kamu pernah merasakan ini, kamu tidak sendirian.
Banyak orang yang pernah terlibat dalam hubungan dengan pasangan narsistik mengalami hal yang sama: mereka sudah “lepas”, tapi secara emosional belum benar-benar bebas. Ini bukan tanda kamu lemah. Ini bukan berarti kamu “tidak belajar”. Ada proses psikologis yang cukup kompleks di baliknya.
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara ilmiah dan mendalam mengapa ketertarikan itu masih ada—bahkan setelah hubungan berakhir—serta bagaimana memahami dan memutus pola tersebut.
Ketertarikan Itu Nyata, dan Itu Bukan Kebetulan
Hal pertama yang perlu kamu pahami: ketertarikan yang masih kamu rasakan bukan kebetulan.
Hubungan dengan individu yang memiliki kecenderungan narsistik sering kali dibangun dengan pola yang sangat kuat secara emosional. Mereka tidak hanya menciptakan hubungan biasa, tapi hubungan yang intens, cepat, dan penuh makna di awal.
Inilah yang membuat hubungan tersebut terasa berbeda dibanding hubungan lain yang pernah kamu alami.
Di tahap awal, kamu mungkin merasa:
- Sangat dipahami
- Dianggap spesial
- Diberi perhatian luar biasa
- Merasa “akhirnya menemukan orang yang tepat”
Pengalaman emosional seperti ini meninggalkan jejak yang sangat kuat di otak.
Love Bombing: Awal yang Membuatmu “Terikat”
Salah satu alasan utama kamu masih tertarik adalah karena pengalaman awal hubungan yang sangat intens, yang dikenal sebagai love bombing.
Love bombing adalah fase di mana pasangan memberikan:
- Pujian berlebihan
- Perhatian terus-menerus
- Komitmen yang terasa cepat dan dalam
- Validasi emosional yang tinggi
Penelitian dalam psikologi hubungan menunjukkan bahwa pengalaman emosional yang intens di awal hubungan dapat menciptakan ikatan emosional yang cepat dan kuat (Aron et al., 1997).
Masalahnya, otak kita cenderung mengingat pengalaman positif yang kuat lebih lama—terutama jika itu terasa “langka”.
Akibatnya, meskipun hubungan berakhir buruk, bagian dari dirimu masih “menggenggam” versi awal pasangan tersebut.
Trauma Bonding: Ikatan yang Terbentuk dari Rasa Sakit
Setelah fase awal yang indah, hubungan dengan narsisis biasanya berubah menjadi tidak stabil: hangat–dingin, dekat–jauh, dihargai–dijatuhkan.
Pola ini menciptakan apa yang disebut sebagai trauma bonding.
Trauma bonding adalah ikatan emosional yang terbentuk melalui siklus:
- Penguatan (reward)
- Penarikan (withdrawal)
- Ketidakpastian
- Pengharapan kembali
Menurut penelitian dari Dutton & Painter (1993), hubungan yang melibatkan siklus kekerasan atau manipulasi emosional dapat menghasilkan keterikatan yang lebih kuat dibanding hubungan sehat.
Kenapa?
Karena otak manusia sangat responsif terhadap intermittent reinforcement—pola di mana hadiah tidak diberikan secara konsisten.
Mirip seperti perjudian: kamu tidak selalu menang, tapi justru karena tidak pasti, kamu jadi lebih sulit berhenti.
Dopamin dan “Kecanduan Emosional”
Secara biologis, hubungan dengan narsisis bisa menyerupai pola kecanduan.
Ketika kamu menerima perhatian, pujian, atau kasih sayang dari pasangan, otak melepaskan dopamin, neurotransmitter yang berhubungan dengan rasa senang dan reward.
Namun karena perhatian itu tidak konsisten:
- Kadang kamu diberi
- Kadang ditarik
Otak menjadi lebih “terlatih” untuk mengejar momen-momen positif tersebut.
Penelitian dalam neuroscience (Volkow et al., 2010) menunjukkan bahwa pola reward yang tidak konsisten justru meningkatkan perilaku adiktif.
Artinya, bukan hanya kamu “merasa rindu”—otakmu memang secara biologis terdorong untuk mencari kembali sensasi itu.
Idealization vs Reality: Kamu Merindukan Versi yang Tidak Konsisten
Banyak korban hubungan narsistik merasa rindu pada pasangannya, tapi sebenarnya yang mereka rindukan bukanlah sosok yang utuh.
Yang dirindukan adalah:
- Versi awal pasangan
- Momen-momen ketika pasangan terlihat peduli
- Harapan bahwa pasangan “bisa berubah”
Ini disebut sebagai idealization trap.
Otak kita cenderung:
- Mengingat yang baik
- Mengabaikan atau meminimalkan yang buruk
Apalagi jika hubungan tersebut pernah memberikan harapan besar.
Padahal secara realistis, perilaku manipulatif dan tidak konsisten itu bukan “fase”—melainkan pola.
Self-Worth yang Terkait dengan Validasi
Dalam banyak kasus, hubungan dengan narsisis perlahan mengubah cara kamu melihat dirimu sendiri.
Tanpa kamu sadari:
- Harga dirimu mulai bergantung pada validasi pasangan
- Kamu mulai merasa “cukup” hanya ketika dihargai oleh mereka
- Kamu kehilangan standar internal tentang nilai diri
Ketika hubungan berakhir, bukan hanya pasangan yang hilang—tapi juga sumber validasi tersebut.
Ini yang membuat kamu merasa:
- Kosong
- Kehilangan arah
- Ingin kembali hanya untuk “merasa cukup lagi”
Penelitian dari Campbell & Foster (2007) menunjukkan bahwa individu dengan dinamika narsistik dalam hubungan sering menciptakan ketergantungan emosional pada pasangan.
Familiarity Bias: Luka Lama yang Terasa “Nyaman”
Hal yang sering tidak disadari adalah: ketertarikan pada narsisis bisa berkaitan dengan pola lama dalam hidupmu.
Jika kamu tumbuh dalam lingkungan:
- Penuh kritik
- Tidak konsisten secara emosional
- Kurang validasi
Maka pola hubungan dengan narsisis bisa terasa… familiar.
Dan otak manusia cenderung:
Memilih yang familiar, bukan yang sehat.
Ini dikenal sebagai familiarity bias dalam psikologi.
Jadi, meskipun hubungan itu menyakitkan, ada bagian dari dirimu yang merasa: “Ini terasa seperti rumah.”
Cognitive Dissonance: Sulit Menerima Realita
Ketika kamu sudah banyak berinvestasi dalam hubungan—emosi, waktu, harapan—akan sangat sulit menerima bahwa hubungan tersebut sebenarnya tidak sehat.
Ini menciptakan cognitive dissonance, yaitu konflik antara:
- Apa yang kamu rasakan
- Apa yang sebenarnya terjadi
Untuk mengurangi ketidaknyamanan ini, otak sering melakukan:
- Membenarkan perilaku pasangan
- Mengingat yang baik saja
- Menganggap “mungkin aku yang salah”
Inilah yang membuat kamu tetap merasa tertarik, meskipun secara logika kamu tahu hubungan itu merugikan.
Empati yang Disalahgunakan
Banyak korban narsisis adalah individu yang memiliki empati tinggi.
Mereka:
- Mudah memahami orang lain
- Ingin membantu
- Percaya bahwa semua orang bisa berubah
Sayangnya, dalam hubungan dengan narsisis, empati ini sering dimanfaatkan.
Kamu mungkin berpikir:
- “Dia sebenarnya terluka”
- “Dia hanya butuh dipahami”
- “Kalau aku cukup sabar, dia akan berubah”
Ini membuat kamu tetap terikat, bukan karena hubungan itu sehat, tapi karena kamu berharap bisa “menyembuhkan” pasangan.
Kenapa Rasa Itu Tidak Langsung Hilang?
Banyak orang bertanya: “Kenapa setelah putus, aku masih merasa seperti ini?”
Jawabannya sederhana tapi tidak mudah: Karena ikatan emosional tidak mengikuti logika.
Putus hubungan adalah keputusan kognitif. Tapi keterikatan adalah proses emosional dan biologis.
Dan keduanya tidak selalu berjalan bersamaan.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan?
Memahami alasan di balik ketertarikan ini adalah langkah pertama. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kamu meresponsnya.
1. Validasi Perasaanmu
Perasaan tertarik itu tidak salah. Itu hasil dari proses yang nyata.
Tapi memahami asalnya akan membantu kamu tidak lagi mengikutinya tanpa sadar.
2. Pisahkan Fakta dan Harapan
Tanyakan pada diri sendiri:
- Apakah yang aku rindukan itu nyata atau harapan?
- Apakah dia benar-benar seperti itu, atau hanya di awal?
3. Edukasi Diri tentang Pola Narsistik
Semakin kamu memahami pola manipulasi, semakin kecil kemungkinan kamu terjebak kembali.
4. Bangun Kembali Self-Worth
Mulai perlahan:
- Mengenali nilai diri tanpa validasi eksternal
- Menghargai diri tanpa syarat
- Menetapkan batasan yang sehat
5. Pertimbangkan Bantuan Profesional
Terapi seperti:
- Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
- Trauma-informed therapy
- EMDR
telah terbukti membantu dalam pemulihan dari hubungan traumatis.
Penutup: Kamu Tidak “Gagal Move On”
Kalau kamu masih merasa tertarik setelah lepas dari hubungan dengan narsisis, itu bukan tanda kamu lemah.
Itu tanda bahwa:
- Kamu pernah terikat secara emosional
- Kamu manusia
- Dan kamu sedang dalam proses memahami pengalaman yang kompleks
Yang penting bukan seberapa cepat kamu melupakan, tapi seberapa dalam kamu memahami.
Karena dari pemahaman itulah, kamu bisa benar-benar bebas—bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional.
Sumber Riset
- Aron, A., et al. (1997). The experimental generation of interpersonal closeness: A procedure and some preliminary findings. Personality and Social Psychology Bulletin.
- Dutton, D. G., & Painter, S. (1993). Emotional attachments in abusive relationships: A test of traumatic bonding theory. Violence and Victims.
- Volkow, N. D., et al. (2010). Dopamine in drug abuse and addiction. Neuropharmacology.
- Campbell, W. K., & Foster, C. A. (2007). The narcissistic self: Background, an extended agency model, and ongoing controversies.
- American Psychiatric Association (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).
- Carnes, P. (2019). The Betrayal Bond: Breaking Free of Exploitive Relationships.
- Herman, J. L. (1992). Trauma and Recovery.
- Fisher, H. (2016). Anatomy of Love: A Natural History of Mating, Marriage, and Why We Stray.











