Teman yang Selalu Bicara tentang Dirinya Sendiri

Dua perempuan indonesia ngobrol exhausted
Teman yang Selalu Bicara tentang Dirinya Sendiri

Disclaimer

Artikel ini bersifat edukatif dan bukan pengganti diagnosis atau terapi dari profesional kesehatan mental. Jika kamu merasa mengalami kekerasan emosional, intimidasi, atau manipulasi yang berat dalam relasi sosial, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional dan dukungan yang aman.

Key Points

  • Bicara tentang diri sendiri itu wajar, tetapi menjadi masalah ketika percakapan selalu satu arah dan kebutuhanmu diabaikan.
  • Tidak semua orang yang self-centered memiliki NPD; yang penting adalah pola, intensitas, dan dampaknya.
  • Dalam dinamika narsistik, percakapan bisa menjadi arena status, validasi, dan kontrol.
  • Kamu dapat melindungi diri lewat komunikasi, batasan energi, dan memperluas dukungan sosial.

edukasinpd.id – Pernahkah kamu punya teman yang setiap kali bertemu, topiknya hampir selalu kembali ke dirinya sendiri? Kamu bercerita tentang hari yang melelahkan, ia menyela dengan kisahnya yang “lebih berat”. Kamu mencoba berbagi kabar baik, ia langsung membandingkan dengan pencapaiannya. Lama-lama kamu merasa tidak benar-benar didengar.

Awalnya mungkin kamu menganggapnya biasa saja. “Ya memang dia orangnya cerewet.” Atau, “Mungkin dia lagi butuh perhatian.” Namun kalau pola itu terjadi terus-menerus, kamu bisa mulai merasa lelah, tidak penting, bahkan tidak terlihat dalam pertemanan itu.

Artikel ini akan membahas mengapa ada teman yang selalu bicara tentang dirinya sendiri, kapan perilaku itu masih dalam batas wajar, kapan bisa terkait dengan ciri narcissistic personality disorder (NPD), dampaknya bagi kesehatan mentalmu, serta bagaimana menyikapinya dengan lebih sehat.

Baca Juga:  Tanda-Tanda Narsisis Telah Mengetahui Anda Menyadari Taktik Mereka

Bicara tentang Diri Sendiri Itu Wajar, Kok

Sebelum kita melabeli apa pun, penting untuk memahami bahwa bicara tentang diri sendiri bukanlah sesuatu yang otomatis salah.

Penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa berbicara tentang diri sendiri dapat mengaktifkan sistem reward di otak (Tamir & Mitchell, 2012). Artinya, saat seseorang menceritakan pengalaman pribadinya, otak bisa merasakan sensasi menyenangkan. Itulah sebabnya media sosial begitu populer—orang senang berbagi tentang dirinya.

Dalam pertemanan yang sehat, berbagi cerita tentang diri sendiri adalah bagian dari koneksi. Kamu cerita, temanmu mendengar. Lalu ia cerita, kamu mendengar. Ada aliran dua arah.

Masalah muncul ketika aliran itu berubah menjadi satu arah.

Ketika Percakapan Selalu Berputar pada Satu Orang

Bayangkan pola seperti ini:

  • Kamu mulai cerita → ia menyela.
  • Kamu sedang sedih → ia membandingkan dengan kesulitannya.
  • Kamu mendapat prestasi → ia mengalihkan ke pencapaiannya.
  • Kamu minta didengar → ia berkata, “Kamu terlalu sensitif.”

Dalam jangka pendek mungkin terasa mengganggu. Dalam jangka panjang, kamu bisa merasa:

  • Tidak penting.
  • Tidak dihargai.
  • Tidak punya ruang.

Pertemanan yang sehat memberi ruang untuk dua orang. Jika hanya satu orang yang terus menjadi pusat, dinamika itu bisa menjadi tidak seimbang.

Apakah Ini Tanda NPD?

Narcissistic personality disorder (NPD), menurut DSM-5-TR (American Psychiatric Association, 2022), ditandai oleh pola grandiositas, kebutuhan akan kekaguman, serta kurangnya empati yang konsisten.

Namun, penting ditekankan: tidak semua orang yang suka bicara tentang dirinya memiliki NPD.

Ada beberapa kemungkinan lain, misalnya ia kurang terampil dalam komunikasi empatik, sedang stres dan butuh perhatian, atau memiliki kecemasan sosial sehingga menggunakan cerita diri sebagai cara mengisi keheningan.

Yang membedakan dengan pola narsistik adalah konsistensi, intensitas, dan dampaknya pada orang lain.

Mengapa Orang dengan Ciri Narsistik Selalu Kembali ke Dirinya?

Harga Diri yang Rapuh di Balik Kepercayaan Diri

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian individu dengan narsisme memiliki harga diri yang tidak stabil (Ronningstam, 2016). Dengan berbicara tentang pencapaian, pengalaman, atau penderitaannya, ia mendapatkan perhatian, simpati, dan pengakuan yang menenangkan kegelisahan internalnya.

Baca Juga:  Dampak Media Sosial pada Perilaku Narsistik di Kalangan Mahasiswa

Kurangnya Empati Afektif

Beberapa studi menemukan bahwa pada narsisme tertentu, empati kognitif bisa ada, tetapi empati afektif cenderung lebih rendah (Wai & Tiliopoulos, 2012). Ia mungkin tahu kamu sedih, tetapi tidak benar-benar memberi ruang karena fokus utamanya tetap dirinya.

Percakapan sebagai Arena Status

Jika seseorang melihat relasi sebagai arena status, ia akan terus berusaha “unggul” dalam cerita: paling sukses, paling sibuk, atau paling menderita.

Dampaknya pada Kamu

Kamu Mulai Mengecilkan Ceritamu Sendiri

Karena sering disela atau dibandingkan, kamu mulai berpikir: “Ah, ceritaku nggak penting.” Lama-lama kamu membungkam diri.

Kamu Jadi Tempat Sampah Emosional

Teman yang selalu bicara tentang dirinya sering datang saat ia butuh didengar, tetapi menghilang saat kamu butuh hal yang sama.

Kamu Meragukan Hakmu untuk Didengar

Dalam relasi yang sangat narsistik, bisa muncul gaslighting sosial: “Kamu aja yang kurang dewasa.” “Kamu terlalu drama.” Padahal yang kamu butuhkan hanya ruang yang seimbang.

Mengapa Kamu Tetap Bertahan?

Ia Bisa Sangat Menyenangkan di Awal

Banyak individu dengan ciri narsistik tampil karismatik, percaya diri, dan menarik. Pertemanan awal terasa seru.

Ada Momen Ia Tiba-Tiba Peduli

Kadang ia memberi perhatian besar. Pola tidak konsisten ini bisa membuat kamu berharap.

Kamu Terbiasa Mengalah

Jika kamu terbiasa menjadi pendengar, kamu mungkin secara otomatis memberi ruang lebih pada orang lain.

Kapan Perlu Waspada?

  • Percakapan hampir selalu tentang dia.
  • Ia tidak bertanya balik tentang hidupmu.
  • Ia terlihat tidak nyaman saat kamu mendapat perhatian.
  • Ia meremehkan atau mengalihkan pencapaianmu.
  • Kamu merasa lelah setelah bertemu.

Jika ini terjadi berulang dan membuatmu tertekan, itu bukan lagi soal gaya ngobrol. Itu soal dinamika relasi.

Apa yang Bisa Kamu Lakukan?

Uji dengan Komunikasi Langsung

Coba katakan dengan tenang: “Aku ingin kamu juga mendengar ceritaku.” atau “Aku merasa sering tidak selesai bicara.” Lihat reaksinya.

Baca Juga:  Kenali 7 Kebiasaan Teks dari Seorang Narcissist yang Perlu Diwaspadai

Batasi Waktu dan Energi

Kamu boleh mengurangi frekuensi bertemu, membatasi topik, dan tidak selalu merespons panjang lebar.

Perkuat Lingkaran Sosial Lain

Jangan hanya bergantung pada satu teman. Relasi sehat memberi keseimbangan.

Kenali Perasaanmu sebagai Sinyal

Jika kamu merasa tegang, kecil, atau lelah setiap kali bertemu, itu informasi penting.

Apakah Ia Bisa Berubah?

Perubahan mungkin terjadi jika seseorang mau merefleksikan diri, menerima umpan balik, dan belajar empati. Namun pada pola narsistik yang kuat, perubahan cenderung sulit tanpa kesadaran dan bantuan profesional.

Yang lebih realistis untuk kamu kontrol adalah batasan dan pilihanmu sendiri.

Penutup: Kamu Juga Layak Didengar

Pertemanan yang sehat bukan panggung satu orang. Pertemanan yang sehat terasa seperti ini:

  • Kamu bicara → ia mendengar.
  • Ia bicara → kamu mendengar.
  • Kamu merasa aman untuk menjadi diri sendiri.

Jika kamu merasa selalu menjadi penonton dalam cerita orang lain, mungkin sudah saatnya bertanya: apakah ini benar-benar pertemanan yang setara?

Kamu tidak egois karena ingin didengar. Kamu tidak berlebihan karena ingin ruang. Kadang, kedewasaan bukan soal mempertahankan semua hubungan—tetapi tentang memilih hubungan yang membuatmu tetap utuh.


Referensi Riset

  1. American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed., text rev.; DSM-5-TR).
  2. Ronningstam, E. (2016). Pathological narcissism and narcissistic personality disorder: Recent research and clinical implications. Current Behavioral Neuroscience Reports.
  3. Tamir, D. I., & Mitchell, J. P. (2012). Disclosing information about the self is intrinsically rewarding. Proceedings of the National Academy of Sciences.
  4. Wai, M., & Tiliopoulos, N. (2012). The affective and cognitive empathic nature of narcissism. Personality and Individual Differences.
  5. Campbell, W. K., & Foster, C. A. (2002). Narcissism and commitment in romantic relationships. Journal of Personality and Social Psychology.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *