Keluar dari Hubungan Narsistik Lalu Hancur Itu Wajar

Npd featured images 20 compressed

“Kok rasanya malah makin sakit setelah putus dari dia?”

Banyak orang yang baru saja lepas dari hubungan dengan pasangan narsistik merasa bingung dengan perasaan mereka sendiri. Harusnya lega, tapi yang datang justru rasa hampa, amarah, dan keraguan diri. Jika kamu mengalami hal ini, kamu tidak sendirian—dan kamu tidak salah merasakannya.

Mengapa Hubungan dengan Narsisis Begitu Mengikat?

Hubungan narsistik sering kali terjalin melalui ikatan yang disebut trauma bond. Ini adalah kondisi di mana korban terjebak dalam siklus pujian dan penghinaan yang membuatnya terus berharap pada fase “baik” yang pernah ada.

Menurut Dr. Patrick J. Carnes, trauma bonding adalah bentuk keterikatan emosional yang terbentuk ketika kekerasan psikologis bercampur dengan rasa cinta dan harapan yang dipermainkan secara konsisten. Siklus ini membingungkan dan membuat korban kesulitan untuk meninggalkan hubungan, bahkan setelah disakiti berkali-kali.

Grieving yang Tidak Biasa Tapi Tetap Nyata

Setelah lepas dari relasi toksik, tubuh dan pikiran kita memasuki proses berduka—sekalipun kita tahu bahwa hubungan itu menyakitkan. Ini bisa disebut sebagai ambiguous grief, atau duka yang membingungkan karena kehilangan sesuatu yang pada dasarnya merugikan kita.

American Psychological Association menjelaskan bahwa korban kekerasan emosional dapat mengalami gejala mirip PTSD, termasuk flashback, rasa bersalah, dan kehilangan kepercayaan diri. Proses berduka dari hubungan narsistik pun jadi lebih kompleks karena sebelumnya ada gaslighting, idealisasi, dan devaluasi yang membuat identitas kita terkikis.

Apa yang Bisa Kamu Lakukan Saat Mengalami Grieving?

  • Tulis jurnal – Tuangkan segala emosi tanpa sensor. Ini bisa jadi terapi harianmu.
  • Temui profesional – Terapis yang trauma-informed akan membantumu menata ulang narasi batinmu.
  • Jaga energi – Istirahat yang cukup bukanlah kemewahan, tapi kebutuhan pemulihan.
  • Kurangi paparan sosial media – Jangan biarkan dunia maya memutar ulang luka lama.
Baca Juga:  Mengungkap Peran Terapi dalam Penyembuhan Korban NPD

Ingat, tak ada timeline pasti untuk sembuh. Tapi setiap langkah yang kamu ambil hari ini, sekecil apa pun, adalah bentuk perlawanan terhadap luka yang pernah menahanmu.

Penutup: Kamu Tidak Lemah, Kamu Sedang Sembuh

Proses grieving ini adalah bukti bahwa kamu manusia yang pernah berharap dan mencintai. Bukan kelemahan. Seperti yang dikatakan oleh Judith Herman dalam Trauma and Recovery:

“Recovery can take place only within the context of relationships; it cannot occur in isolation.”

Maka, jika kamu sedang berduka, izinkan dirimu merasakan, bukan menekan. Hubungi teman terpercaya, komunitas support group, atau tenaga profesional. Kamu tidak sendirian.

Ditulis oleh Tim EdukasiNPD.com – Ruang Kesadaran, Pemulihan, dan Keadilan.


Sumber:

  • Carnes, P. J. (2001). The Betrayal Bond. Health Communications Inc.
  • American Psychological Association. (2023). Emotional Abuse. www.apa.org
  • Herman, J. (1992). Trauma and Recovery. Basic Books.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *