โKamu itu penengah, jangan ikut marah.โ
Pernah dengar kalimat seperti ini? Atau justru kamu sering mengalaminya bertahun-tahun?
Banyak anak dalam keluarga narsistik yang tumbuh dalam peran sebagai penengahโorang yang dituntut menjaga ketenangan, menengahi konflik, bahkan ikut meredakan ketegangan yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya. Sayangnya, luka anak penengah sering tak terlihat. Mereka tampak baik-baik saja di luar, tapi terluka dalam diam.
Siapa Itu Anak Penengah dalam Keluarga Narsistik?
Dalam keluarga dengan orang tua yang memiliki ciri narsistik, biasanya terbentuk pola peran tidak sehat: ada anak emas (golden child), anak kambing hitam (scapegoat), dan anak penengah. Anak penengah ini sering menjadi ‘penetral’, tidak terlalu menonjol tapi selalu bisa diandalkan. Mereka menjaga agar semua orang tetap tenang, bahkan jika itu berarti mengorbankan dirinya sendiri.
Mengapa Anak Penengah Terlihat โBaik-Baik Sajaโ?
Anak penengah belajar sejak kecil bahwa kebutuhan emosinya harus ditekan agar tidak memperkeruh suasana. Mereka terbiasa menyenangkan semua pihakโdengan harapan suasana tetap damai. Tapi damai ini semu. Tanpa disadari, mereka menjadi people pleaser dan kehilangan koneksi dengan diri sendiri.
Sebuah studi dari Journal of Family Psychology menjelaskan bahwa anak yang menjalani parentificationโperan dewasa saat masih anak-anakโberisiko mengalami gangguan kecemasan dan kesulitan relasi di masa dewasa.
Dampak Psikologis Anak Penengah
- Sulit mengenali emosi dan kebutuhan diri sendiri
- Merasa bersalah saat memprioritaskan diri
- Takut konflik, lebih memilih diam meskipun dirugikan
- Risiko burnout dan depresi karena selalu memikul tanggung jawab emosional
Tanda-Tanda Kamu Mungkin Anak Penengah
- Selalu menjadi peredam konflik dalam keluarga
- Tidak nyaman mengekspresikan emosi negatif
- Merasa bersalah saat berkata โtidakโ
- Selalu mendahulukan orang lain dibanding diri sendiri
Cara Memulai Pemulihan Diri
Inilah kabar baiknya: kamu bisa sembuh. Kamu bisa membangun hubungan sehatโtermasuk dengan dirimu sendiri.
Beberapa langkah awal:
- Sadari bahwa pengalamanmu valid. Kamu tidak โberlebihanโ.
- Pelajari tentang inner child dan boundaries.
- Jangan ragu mencari bantuan profesional seperti psikolog atau terapis.
- Berikan dirimu izin untuk tidak menjadi penengah lagi.
Penutup: Kamu Berhak Menjadi Diri Sendiri
Mengakhiri peran sebagai anak penengah bukan berarti egois. Itu berarti kamu mulai peduli pada dirimu sendiri. Luka itu nyata, dan kamu berhak sembuh.
Sumber:
- Hooper, L. M., Doehler, K., Wallace, S. A., & Hannah, N. J. (2011). The Parentification Inventory: Development, validation, and cross-validation. Journal of Youth and Adolescence, 40(9), 1219โ1233.
- Psychology Today: The Peacemaker Child in Narcissistic Families











