edukasinpd.id –
Sekilas, orang dengan sifat narsistik terlihat seperti punya kendali penuh atas diri mereka.
Mereka bisa tampil sangat tenang, percaya diri, bahkan karismatik di depan banyak orang.
Namun di balik citra “kuat” itu, penelitian menunjukkan bahwa narsisis sebenarnya memiliki pola emosi yang tidak stabil — hanya saja mereka sangat pandai mengendalikannya agar tidak terlihat lemah.
Menarik, bukan? Mari kita bahas apa yang ditemukan para peneliti dan kenapa hal ini penting untuk kamu pahami, terutama jika pernah atau sedang berinteraksi dengan seseorang yang memiliki sifat narsistik.
—
Wajah Ganda Emosi Narsisis
Jika kamu pernah berurusan dengan orang narsistik, kamu mungkin pernah melihat dua sisi mereka:
- Satu sisi tampak percaya diri, berwibawa, bahkan menginspirasi.
- Sisi lain mudah tersinggung, defensif, dan reaktif ketika dikritik sedikit saja.
Menurut riset dari University of Mannheim (2023), individu dengan kecenderungan grandiose narcissism sebenarnya mengalami fluktuasi emosi yang tajam, terutama antara rasa superioritas dan rasa tidak aman.
Namun mereka terlatih untuk “menekan” bagian rapuh itu demi menjaga citra sempurna di mata orang lain.
Mereka bisa tampil seolah tidak terganggu, padahal di dalam diri sedang terjadi “badai kecil” berupa rasa malu, iri, atau takut kehilangan kendali.
—
Emosi yang Tidak Stabil, Tapi Terkontrol
Menariknya, studi psikologi sosial menyebut bahwa narsisis tidak kehilangan kontrol atas emosi, tetapi justru menggunakannya sebagai alat strategi sosial.
Dalam penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Personality and Social Psychology (2021), ditemukan bahwa:
“Individu narsistik mampu menekan emosi negatif mereka secara sadar ketika sedang berada di situasi sosial yang menguntungkan bagi citra diri mereka.”
Artinya, mereka bisa marah tapi menahannya saat sedang di depan atasan.
Namun di tempat aman — misalnya dengan pasangan atau orang terdekat — kemarahan itu bisa meledak tanpa filter.
Kondisi ini disebut para ahli sebagai emosi yang teratur tapi tidak seimbang: mereka bisa mengendalikan ekspresi luar, tapi bukan karena stabil secara emosional, melainkan karena takut kehilangan kekuasaan atau validasi.
—
Kenapa Narsisis Sangat Takut Kehilangan Kendali?
Di balik kebutuhan untuk tampil “selalu benar”, narsisis sebenarnya sangat takut pada rasa malu dan ditolak.
Dalam model psikologi yang dikembangkan oleh Dr. Heinz Kohut, tokoh utama self psychology, narsisis memiliki “inti diri” yang rapuh — dan citra sempurna yang mereka bangun adalah cara untuk melindunginya.
Jadi ketika seseorang menyinggung, mengkritik, atau bahkan hanya berbeda pendapat, mereka bisa merasa seolah harga dirinya diserang.
Reaksi emosionalnya bisa ekstrem, tapi mereka jarang menunjukkannya langsung di depan publik.
Di luar, mereka bisa tetap tersenyum.
Di dalam, mereka mungkin sedang diliputi kemarahan, rasa malu, atau kecemasan besar.
—
Pola yang Terlihat di Kehidupan Sehari-Hari
Berikut beberapa bentuk nyata dari “emosi tidak stabil tapi terkontrol” yang sering muncul pada individu dengan kecenderungan narsistik:
- Tampak tenang saat dikritik, tapi diam-diam menyimpan dendam.
Mereka bisa membalas dengan cara halus, misalnya lewat sindiran atau sabotase kecil. - Menyembunyikan rasa iri dengan sikap merendahkan.
Saat melihat orang lain lebih sukses, mereka bisa berpura-pura tak peduli, padahal merasa tersaingi. - Menekan rasa takut gagal dengan kesombongan berlebihan.
Semakin mereka takut kalah, semakin keras mereka berusaha terlihat tak tergoyahkan. - Marah dalam bentuk pasif-agresif.
Bukan teriakan, tapi diam yang menghukum, sarkasme, atau penarikan perhatian secara tiba-tiba.
Semua pola ini membuat banyak orang salah paham — mengira narsisis “dingin dan logis”, padahal mereka sedang berjuang menjaga “topeng ketenangan” agar tidak terlihat lemah.
—
Apa Kata Penelitian Tentang Fluktuasi Emosi Ini?
Penelitian dari University of Amsterdam (2020) menggunakan pemantauan emosi harian terhadap individu dengan skor narsisme tinggi.
Hasilnya menunjukkan bahwa dalam 7 hari:
- Mereka mengalami perubahan suasana hati signifikan 2–3 kali lebih sering dibandingkan partisipan non-narsistik.
- Namun hanya 30% dari emosi negatif mereka yang benar-benar mereka tunjukkan keluar.
Dengan kata lain, emosi mereka intens tapi tersembunyi.
Peneliti menyimpulkan bahwa ini membuat mereka tampak stabil, tapi sebenarnya berada dalam kondisi psikologis yang terus “tegang”.
Dr. W. Keith Campbell dari University of Georgia juga menambahkan,
“Narsisis memiliki sistem harga diri yang sensitif terhadap ancaman. Mereka tampak percaya diri, tapi itu lebih seperti benteng daripada fondasi yang kokoh.”
—
Dampaknya bagi Orang di Sekitar
Kestabilan semu ini bisa sangat membingungkan bagi orang-orang yang berinteraksi dengan mereka.
Misalnya:
- Kamu mengira situasi sudah tenang, tiba-tiba mereka memutuskan hubungan tanpa penjelasan.
- Kamu pikir mereka memaafkanmu, padahal mereka sedang menyimpan catatan kesalahanmu untuk digunakan nanti.
- Kamu merasa semua baik-baik saja, tapi tiba-tiba mereka menjauh karena merasa tidak lagi dipuja.
Orang dengan sifat narsistik sering mengatur ekspresi emosi untuk menjaga posisi dominan.
Jadi ketika kamu tidak bereaksi seperti yang mereka harapkan, mereka bisa berubah sikap secara drastis — dari ramah ke dingin, dari memuji ke menghina.
—
Bukan Karena Mereka “Berubah”, Tapi Karena Topengnya Lepas
Salah satu kesalahan umum adalah menganggap narsisis memiliki dua kepribadian.
Padahal sebenarnya mereka hanya menunjukkan sisi yang berbeda sesuai dengan siapa yang ada di depan mereka.
Ketika mereka merasa aman, topeng kontrol itu bisa turun — dan kamu mulai melihat sisi emosi yang tidak stabil itu: kemarahan, ketakutan, bahkan rasa tidak berdaya yang selama ini mereka sembunyikan.
Di titik ini, mereka sering menggunakan mekanisme pertahanan seperti:
- Menyalahkan orang lain (projection).
- Menyangkal perasaan sendiri.
- Mencari pembenaran rasional agar tetap terlihat benar.
Semua dilakukan demi satu hal: mempertahankan kendali atas citra diri.
—
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Fakta Ini?
Memahami bahwa narsisis punya emosi yang tidak stabil tapi terkontrol bisa membantu kita bersikap lebih realistis.
Artinya, kita tidak perlu berharap mereka “berubah” hanya karena sesekali terlihat lembut.
Ada beberapa hal yang bisa kamu terapkan jika berinteraksi dengan orang seperti ini:
- Jangan tertipu oleh ketenangan palsu.
Tenang bukan berarti mereka menerima situasi. Kadang, itu hanya jeda sebelum reaksi berikutnya muncul. - Tetap berpegang pada fakta, bukan emosi.
Jika mereka mencoba memutarbalikkan cerita, gunakan data dan batas waktu yang jelas. - Jaga jarak emosional.
Kamu tidak harus merespons setiap perubahan mood mereka. - Fokus pada dirimu, bukan pada mengubah mereka.
Perubahan hanya mungkin terjadi jika mereka sendiri mengakui pola mereka, dan itu sangat jarang tanpa terapi profesional.
—
Emosi Mereka Bukan Tanggung Jawabmu
Hal penting untuk diingat: kamu tidak bisa menyembuhkan atau menstabilkan emosi orang narsistik.
Kamu bisa berempati tanpa harus menanggung akibat dari perilaku mereka.
Seperti yang dikatakan oleh Dr. Ramani Durvasula, pakar perilaku narsistik,
“Empati tidak berarti kamu harus terus berada dalam hubungan yang menyakitkan.”
Mengenali pola ini justru membantu kamu melepaskan rasa bersalah dan tanggung jawab palsu yang sering terbentuk dalam hubungan dengan orang narsistik.
—
Penutup: Mereka Terkendali, Tapi Tidak Benar-Benar Tenang
Narsisis sering tampak seperti orang yang tak tersentuh emosi, tapi sebenarnya mereka hidup dalam medan perang batin yang terus bergolak.
Mereka menekan rasa takut, malu, dan iri agar bisa mempertahankan kendali — bukan karena kuat, tapi karena tidak tahan merasa lemah.
Mengetahui fakta ini bukan untuk mengasihani mereka, melainkan agar kamu bisa melindungi diri lebih baik.
Kamu tidak perlu berusaha memahami setiap ledakan mereka atau mencari alasan di balik perubahan sikapnya.
Cukup pahami satu hal: ketenangan mereka sering kali hanyalah topeng dari badai yang tak pernah benar-benar reda.
—
🔹 Referensi:
- University of Mannheim. (2023). Emotional Regulation and Instability in Grandiose Narcissism.
- Journal of Personality and Social Psychology. (2021). The Strategic Emotion Control of Narcissists.
- University of Amsterdam. (2020). Daily Mood Fluctuations in Narcissistic Individuals.
- Campbell, W. K. (2022). The New Science of Narcissism.
- Durvasula, R. (2015). Should I Stay or Should I Go? Surviving a Relationship with a Narcissist.










